Monitoring Hari Kedua Masa Ta’aruf, Pengawas Madrasah Tekankan Moderasi Beragama
Maarif NU Banyuwangi
Selasa 14 Jul 2026
BANYUWANGI — Pengawas Madrasah wilayah Gambiran dan Tegalsari, St. Muanifah, melakukan monitoring hari kedua Masa Ta’aruf Murid Madrasah di MI Hidayatul Ulum, MI Miftahul Huda, dan MI Al Muttaqien, wilayah Gambiran, pada 14/07/2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung proses pengenalan lingkungan belajar, respons peserta didik, serta dinamika yang muncul ketika siswa baru mulai berinteraksi dengan guru, teman, dan suasana madrasah yang belum sepenuhnya mereka kenal.
Dalam pemantauan di tiga lembaga tersebut, Muanifah menemukan beragam perilaku anak yang mewarnai kegiatan. Sebagian siswa terlihat antusias, aktif, dan menunjukkan tingkah lucu ketika mengikuti arahan guru. Namun, terdapat pula anak yang belum bersedia bergabung bersama peserta lainnya. Mereka masih memilih berada dekat dengan orang tua karena belum mengenal teman dan guru. Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa setiap siswa memiliki kesiapan emosional yang tidak sama ketika memasuki lingkungan pendidikan baru.
Menurut pengamatannya, anak yang masih menempel kepada orang tua memerlukan pendekatan yang sabar dan telaten. Situasi tersebut tidak cukup diselesaikan dengan meminta siswa segera bergabung, tetapi perlu diurai secara bertahap agar anak merasa aman dan percaya terhadap lingkungan barunya. Guru diharapkan mampu membangun komunikasi yang ramah, menghadirkan suasana menyenangkan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyesuaikan diri sesuai tingkat kesiapan masing-masing tanpa menimbulkan tekanan.
Monitoring tersebut juga memperlihatkan pentingnya masa ta’aruf sebagai ruang awal untuk memahami karakter peserta didik. Kegiatan pengenalan lingkungan bukan hanya berkaitan dengan ruang kelas, guru, teman, dan tata tertib, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pendidik untuk mengenali kebutuhan setiap anak. Ada siswa yang cepat berbaur, sementara sebagian lainnya memerlukan dukungan lebih lama. Kondisi itu menjadi tantangan bagi madrasah untuk menghadirkan pendampingan yang ramah, terbuka, dan memperhatikan perkembangan emosional peserta didik.
Selain mengamati proses adaptasi siswa, Muanifah menyampaikan pesan mengenai pentingnya moderasi beragama. Ia mengajak para peserta untuk mengenal nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Anak-anak diharapkan bersama-sama mengenal moderasi beragama dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya. Penyampaian itu mendapat perhatian dari peserta. Anak-anak terlihat antusias mendengarkan penjelasan dan memberikan respons ketika ditanya mengenai tema yang sedang dibahas dalam kegiatan tersebut.
Respons aktif siswa menunjukkan bahwa pengenalan moderasi beragama dapat disampaikan melalui komunikasi sederhana dan interaktif. Pertanyaan yang diberikan membantu anak terlibat dalam pembahasan, sedangkan jawaban mereka menjadi bagian dari proses memahami pesan yang disampaikan. Nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai materi yang didengar selama masa ta’aruf, tetapi dapat diwujudkan dalam sikap sehari-hari ketika berinteraksi dengan teman, guru, keluarga, serta masyarakat di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Kunjungan Muanifah ke tiga madrasah di wilayah Gambiran menegaskan bahwa keberhasilan masa pengenalan tidak hanya diukur dari terselenggaranya rangkaian agenda. Kenyamanan siswa, keberanian berinteraksi, kemampuan mengenal lingkungan baru, serta pemahaman terhadap nilai kehidupan bersama juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Melalui kesabaran guru, dukungan orang tua, dan pendampingan yang sesuai, kegiatan ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi siswa untuk tumbuh nyaman, percaya diri, dan mampu menerapkan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.