Banyuwangi — Dewan Pakar LP Ma’arif PCNU Banyuwangi, Ahmad Syifa Nailul Wafa, menyampaikan penguatan arah strategis pendidikan Ma’arif dalam Rapat Koordinasi LP Ma’arif PCNU Banyuwangi, Kamis, 2 Juli 2026. Dalam forum tersebut, ia menegaskan kembali pesan Rais Syuriah PCNU Banyuwangi bahwa LP Ma’arif PCNU merupakan etalase pendidikan ulama Banyuwangi yang harus mampu menjadi pilihan utama masyarakat, khususnya warga Nahdliyin.
Baca Juga : Membangun Personal Branding Pelatih Pembina Pramuka: Penting atau Tidak?
Dalam forum tersebut, Ahmad Syifa Nailul Wafa menyampaikan ulang pesan Rais Syuriah PCNU Banyuwangi bahwa LP Ma’arif PCNU Banyuwangi bukan sekadar lembaga pengelola pendidikan, melainkan wajah pendidikan para ulama di tengah masyarakat. Karena itu, keberadaan LP Ma’arif memiliki tanggung jawab moral, sosial, dan kelembagaan untuk menghadirkan layanan pendidikan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Nahdliyin maupun masyarakat luas.
Menurutnya, lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif NU memiliki fungsi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Pendidikan menjadi ruang perjumpaan langsung antara organisasi, ulama, orang tua, peserta didik, dan masa depan generasi. Karena itu, visi besar Rais Syuriah PCNU Banyuwangi harus dapat ditafsirkan, diterjemahkan, dan dieksekusi secara konkret oleh seluruh jajaran pengurus LP Ma’arif PCNU Banyuwangi.
“LP Ma’arif PCNU adalah etalase pendidikan ulama Banyuwangi,” demikian pesan Rais Syuriah PCNU Banyuwangi yang disampaikan kembali oleh Ahmad Syifa Nailul Wafa dalam rapat koordinasi tersebut.
Pesan itu menjadi titik tekan penting dalam forum koordinasi. LP Ma’arif PCNU Banyuwangi diharapkan mampu bergerak lebih solid, terarah, dan terukur agar lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungannya kembali menjadi pilihan utama masyarakat, khususnya warga Nahdliyin, dalam menentukan pendidikan berkualitas bagi putra-putrinya.
Ahmad Syifa Nailul Wafa juga menyoroti perlunya refleksi bersama mengenai realitas sebagian warga NU yang masih memilih menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan yang tidak berada di bawah naungan Ma’arif. Menurutnya, hal tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan pilihan individu, tetapi perlu dibaca sebagai pekerjaan rumah bersama bagi pengurus dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan Ma’arif.
Pertanyaan mengapa sebagian warga NU memilih lembaga pendidikan lain harus menjadi bahan evaluasi yang serius. Forum koordinasi diharapkan tidak berhenti pada pembahasan administratif, tetapi juga mampu merumuskan solusi strategis agar LP Ma’arif PCNU Banyuwangi semakin dipercaya masyarakat.
“Kenapa warga NU beberapa memilih sekolah di lembaga pendidikan yang bukan di bawah Ma’arif? Ini menjadi PR bersama, penting untuk menjadi refleksi, dirumuskan bersama, dan dicari solusi terbaik,” ujarnya.
Ia berharap, melalui penguatan kualitas, komitmen, kekompakan, serta langkah-langkah nyata pengurus, lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif PCNU Banyuwangi dalam satu hingga dua tahun mendatang dapat semakin kokoh sebagai pilihan utama warga Nahdliyin. Harapan tersebut tidak hanya diarahkan kepada warga NU, tetapi juga kepada masyarakat di luar Nahdliyin yang membutuhkan layanan pendidikan bermutu.
Dalam konteks itu, LP Ma’arif PCNU Banyuwangi dinilai perlu memperkuat kualitas kelembagaan, meningkatkan kepercayaan publik, serta memastikan setiap satuan pendidikan mampu menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kualitas pendidikan menjadi kata kunci agar lembaga Ma’arif tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing dan menjadi rujukan masyarakat.
Selain soal kepercayaan publik, Ahmad Syifa Nailul Wafa juga menekankan tantangan keberlanjutan lembaga pendidikan Ma’arif NU. Menurutnya, lembaga pendidikan di bawah Ma’arif dituntut untuk mampu bertahan, berkembang, dan menjadi pemenang di tengah perubahan kebijakan serta dinamika dunia pendidikan.
Salah satu tantangan yang disebut dalam rapat koordinasi tersebut adalah hadirnya program-program pemerintah yang berfokus pada sektor pendidikan, termasuk dukungan terhadap program Sekolah Rakyat. Program tersebut menjadi tantangan sekaligus momentum bagi lembaga pendidikan Ma’arif untuk terus meningkatkan kualitas dan memperkuat daya saing.
Ia menilai, berbagai program pemerintah di bidang pendidikan harus dijawab dengan kesiapan lembaga, peningkatan mutu, serta kekompakan seluruh unsur pengurus. Tanpa kekompakan, tantangan pendidikan ke depan akan sulit dijawab secara optimal.
“Tantangan ke depan ini bisa dilaksanakan dengan bagus kalau ada kekompakan,” tegasnya.
Rapat Koordinasi LP Ma’arif PCNU Banyuwangi tersebut menjadi ruang penting untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen organisasi, dan merumuskan langkah strategis pengembangan pendidikan Ma’arif. Forum ini juga menjadi momentum untuk membaca ulang posisi LP Ma’arif sebagai lembaga yang tidak hanya mengelola pendidikan, tetapi juga menjaga amanah ulama dalam membangun generasi.
Dengan posisi sebagai lembaga pendidikan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, LP Ma’arif PCNU Banyuwangi memiliki peran strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, menjaga identitas pendidikan Nahdlatul Ulama, serta menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Melalui pesan yang disampaikan Ahmad Syifa Nailul Wafa, LP Ma’arif PCNU Banyuwangi didorong untuk tidak sekadar bertahan di tengah perubahan, tetapi bergerak lebih maju sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas, dipercaya, dan menjadi pilihan utama masyarakat.
Ke depan, penguatan kualitas, soliditas pengurus, serta kemampuan menerjemahkan visi ulama menjadi kerja nyata menjadi kunci penting agar pendidikan Ma’arif di Banyuwangi semakin relevan, kompetitif, dan berdampak langsung bagi warga Nahdliyin maupun masyarakat umum.
