BANYUWANGI — MI Sunan Giri Kebaman, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, membuka kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) bagi siswa baru pada 14/07/2026 di lingkungan MI Sunan Giri yang bersebelahan dengan Masjid Jami’ Al Muttaqien Srono. Kegiatan tersebut menjadi awal pengenalan lingkungan belajar bagi 39 siswa baru kelas I dan siswa pindahan.
Pembukaan MATAMUDA diikuti oleh seluruh siswa MI Sunan Giri yang saat ini berjumlah 198 orang. Kegiatan juga dihadiri wali murid baru, kepala madrasah, seluruh dewan guru, serta para simpatisan madrasah.
Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk membantu siswa baru mengenal lingkungan belajar, budaya madrasah, guru, serta teman-teman yang akan mendampingi mereka selama mengikuti proses pendidikan. Pengenalan diberikan kepada siswa kelas I maupun siswa pindahan dari lembaga pendidikan lain.
Selain membantu proses adaptasi, MATAMUDA diarahkan untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam menetapkan dan memperjuangkan cita-cita. Para siswa juga dilatih agar berani bertindak, mampu bertanggung jawab, serta membiasakan diri bersikap jujur, disiplin, setia, dan patuh kepada guru maupun orang tua.
Salah satu agenda utama dalam pembukaan MATAMUDA adalah pelepasan balon udara yang bertuliskan nama dan cita-cita siswa. Balon-balon tersebut diterbangkan secara bersama-sama sebagai simbol harapan agar setiap siswa berani memiliki impian yang tinggi dan berusaha mewujudkannya melalui proses belajar yang sungguh-sungguh.
Melalui kegiatan simbolis tersebut, setiap siswa diajak mengenali cita-cita yang ingin dicapai pada masa depan. Nama dan cita-cita yang dituliskan pada balon menjadi pesan bahwa setiap anak memiliki harapan, potensi, dan kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Pelepasan balon juga mengandung pesan bahwa cita-cita tidak cukup hanya dituliskan atau diucapkan. Para siswa perlu membangun kebiasaan belajar yang baik, menaati aturan, menghormati guru dan orang tua, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang dilakukan.
Nuruddin dalam pesannya menekankan bahwa tingginya cita-cita harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh profesi yang berhasil diraih, tetapi juga oleh nilai-nilai kebaikan yang diterapkan ketika menjalankan profesi tersebut.
“Diharapkan anak-anak memiliki cita-cita yang tinggi dan setinggi-tingginya. Jika nantinya menjadi apa saja yang telah dicita-citakan, jadilah yang baik. Jadi guru, jadilah guru yang baik. Jadi polisi, jadilah polisi yang baik. Jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang baik. Jadi apa saja, jadilah yang baik sesuai dengan kedisiplinan dan kejujuran yang ditanamkan sejak dalam masa belajar,” kata Nuruddin.
Pesan tersebut menjadi salah satu nilai utama dalam pelaksanaan MATAMUDA. Masa pengenalan siswa baru tidak hanya digunakan untuk memperkenalkan ruang kelas, lingkungan fisik, serta warga madrasah, tetapi juga menjadi tahap awal penanaman nilai moral dan tanggung jawab.
Siswa diharapkan memahami bahwa cita-cita yang tinggi harus didukung dengan kemauan belajar, keberanian mencoba, serta kesiapan menerima konsekuensi dari setiap pilihan. Keberanian yang ditanamkan bukan keberanian bertindak tanpa pertimbangan, melainkan keberanian berbuat baik dan mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut.
Kegiatan MATAMUDA juga diarahkan untuk menanamkan sifat jujur sejak awal siswa mengikuti pendidikan di madrasah. Kejujuran dipandang sebagai dasar penting dalam membangun kepercayaan antara siswa, guru, orang tua, dan lingkungan sekitarnya.
Selain itu, para siswa dilatih agar memiliki sikap pemberani, setia, taat, serta patuh terhadap nasihat dan arahan bapak ibu guru maupun orang tua. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan siswa, baik ketika berada di lingkungan madrasah maupun dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan masyarakat.
Pelibatan seluruh siswa dalam pembukaan MATAMUDA turut memberikan ruang bagi terbangunnya interaksi antara siswa baru dan siswa lama. Pertemuan tersebut membantu siswa saling mengenal sekaligus mengurangi rasa canggung yang mungkin muncul ketika memasuki lingkungan belajar baru.
Dari proses interaksi tersebut, madrasah berharap tumbuh kebersamaan, kerukunan, kepedulian, serta semangat saling menolong di antara para siswa. Suasana yang harmonis dinilai penting agar setiap siswa merasa diterima, aman, dan nyaman selama mengikuti proses pembelajaran.
Kebersamaan yang dibangun sejak awal juga menjadi modal untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Ketika siswa saling mengenal dan menghargai, proses belajar dapat berlangsung dengan lebih tertib serta didukung hubungan sosial yang sehat.
Kehadiran wali murid dalam pembukaan MATAMUDA memperkuat hubungan antara keluarga dan madrasah. Dukungan orang tua dibutuhkan, terutama bagi siswa kelas I yang sedang menjalani masa peralihan menuju lingkungan pendidikan baru.
Keterlibatan orang tua juga menunjukkan bahwa pendidikan siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab madrasah. Keberhasilan pembentukan karakter memerlukan kerja sama antara guru, orang tua, siswa, dan masyarakat.
Melalui MATAMUDA, MI Sunan Giri berupaya membangun keselarasan antara proses pengenalan lingkungan, pembentukan karakter, dan penumbuhan cita-cita. Ketiga aspek tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran dan mengembangkan potensi diri.
Pembukaan MATAMUDA pada 14/07/2026 menegaskan bahwa masa pengenalan siswa baru bukan sekadar kegiatan seremonial. Program tersebut menjadi langkah awal untuk membentuk siswa yang berani bermimpi, rajin belajar, jujur dalam bertindak, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Dengan dukungan kepala madrasah, dewan guru, wali murid, seluruh siswa, dan simpatisan madrasah, kegiatan ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi perjalanan pendidikan 39 siswa baru MI Sunan Giri Kebaman Srono. Mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, serta mampu memberikan kebaikan melalui profesi apa pun yang kelak mereka pilih.
pendidikan metropolitan nasional
