Banyuwangi, (17/6/2026) — MI Nahdlatut Thullab menggelar Purnawiyata ke-7 dan Apresiasi Capaian Belajar Peserta Didik Tahun Pelajaran 2026/2027 pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi madrasah untuk melepas peserta didik sekaligus meneguhkan pesan keberlanjutan pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Acara yang dihadiri sekitar 100 peserta tersebut berlangsung dengan agenda utama purnawiyata. Selain menjadi ruang apresiasi atas capaian belajar peserta didik, kegiatan ini juga dimaknai sebagai forum penguatan komitmen bersama agar lulusan MI Nahdlatut Thullab tetap terhubung dengan almamater dan melanjutkan pendidikan pada jenjang madrasah NU.
Kegiatan ini dihadiri Kepala MI Nahdlatut Thullab, Kepala MTs Nahdlatut Thullab, Ketua LP Ma’arif PCNU Banyuwangi, Drs. Saeroji, M.Pd., M.Ag., jajaran MWC NU Kecamatan Licin, serta Pengawas Madrasah Kecamatan Licin. Kehadiran para tokoh pendidikan dan struktur NU tersebut menunjukkan bahwa purnawiyata tidak hanya dipandang sebagai agenda seremonial, tetapi juga bagian dari konsolidasi pendidikan Ma’arif NU di tingkat kecamatan.
Dalam kegiatan tersebut, pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya menjaga kesinambungan pendidikan anak-anak warga NU. Lulusan MI Nahdlatut Thullab diharapkan tidak berhenti pada kebanggaan kelulusan, tetapi mampu merawat ikatan moral, historis, dan kultural dengan lembaga yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka.
Baca Juga : Kompak, NU Tegaldlimo gandeng Forpimka Launching GASNU dan Pawai Tahun Baru 1448 Hijriah
Ketua LP Ma’arif PCNU Banyuwangi, Drs. Saeroji, M.Pd., M.Ag., dalam pesannya menekankan agar lulusan MI Nahdlatut Thullab terus merawat almamater. Salah satu bentuk konkret yang disampaikan adalah melanjutkan pendidikan di MTs Nahdlatut Thullab. Menurutnya, kesinambungan tersebut penting agar perjuangan dan jariyah para pendahulu yang telah membangun lembaga pendidikan NU tidak terbengkalai.
“Lulusan MI Nahdlatut Thullab harus terus merawat almamater, salah satunya dengan melanjutkan sekolah di MTs Nahdlatut Thullab agar jariyah para pendahulu tidak terbengkalai. Gaungkan terus GASNU, agar kader-kader NU terus tumbuh dan berkembang baik sebagai generasi penerus Jam’iyah NU,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pesan itu sekaligus mempertegas posisi strategis GASNU atau Gerakan Ayo Sekolah Madrasah NU sebagai gerakan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penerimaan peserta didik, tetapi juga pada penguatan kaderisasi, kesinambungan kelembagaan, dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah serta madrasah Ma’arif NU.
Dalam kesempatan yang sama, masyarakat juga diajak untuk tidak ragu menyekolahkan anak di sekolah dan madrasah NU. Madrasah Ma’arif NU ditegaskan memiliki kualitas yang tidak kalah dari lembaga pendidikan lain. Pesan tersebut diarahkan untuk membangun kepercayaan publik sekaligus menguatkan kesadaran warga NU agar kembali menjadikan lembaga pendidikan NU sebagai pilihan utama.
“Jangan ragu sekolah di sekolah dan madrasah NU, karena sekolah madrasah Ma’arif NU tidak kalah berkualitas dari sekolah tetangga dan tidak pernah ngrusuhi negara. Anak’e wong NU kudu sekolah NU. LP Ma’arif NU Kabupaten Banyuwangi naik kelas satu tingkat,” lanjut pesan narasumber.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan Ma’arif NU di Banyuwangi sedang diarahkan untuk terus meningkatkan mutu layanan, memperkuat reputasi, dan menghadirkan lembaga pendidikan yang semakin dipercaya masyarakat. Frasa “naik kelas satu tingkat” menjadi pesan moral sekaligus dorongan kelembagaan agar madrasah dan sekolah NU tidak berhenti pada pola lama, tetapi bergerak lebih maju dalam kualitas, tata kelola, dan pelayanan pendidikan.
Purnawiyata ke-7 MI Nahdlatut Thullab juga menjadi ruang silaturahmi antara madrasah, wali peserta didik, struktur NU, pengawas madrasah, dan LP Ma’arif. Kehadiran MWC NU Kecamatan Licin beserta jajaran memperlihatkan adanya dukungan struktural terhadap keberlangsungan pendidikan Ma’arif di wilayah Licin. Dukungan tersebut penting karena madrasah tidak dapat berjalan sendiri tanpa keterlibatan masyarakat, tokoh NU, pengawas, dan pemangku kepentingan pendidikan.

Dari sisi kelembagaan, kegiatan ini memperkuat hubungan antara MI Nahdlatut Thullab dan MTs Nahdlatut Thullab sebagai bagian dari ekosistem pendidikan NU. Ajakan agar lulusan MI melanjutkan ke MTs Nahdlatut Thullab menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan peserta didik dalam lingkungan pendidikan yang memiliki kedekatan nilai, kultur, dan orientasi kejamiyahan.
Bagi peserta didik, purnawiyata menjadi penanda akhir dari satu jenjang pembelajaran sekaligus awal untuk memasuki tahap pendidikan berikutnya. Bagi madrasah, kegiatan ini menjadi ruang evaluasi, apresiasi, dan penguatan komitmen agar layanan pendidikan terus ditingkatkan. Bagi masyarakat, acara tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah dan madrasah NU memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga tumbuh dalam kultur keagamaan dan sosial Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Dengan terselenggaranya Purnawiyata ke-7 dan Apresiasi Capaian Belajar Peserta Didik MI Nahdlatut Thullab, semangat GASNU kembali mendapatkan ruang aktualisasi di Kecamatan Licin. Pesan “Anak’e wong NU kudu sekolah NU” tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi ajakan kolektif untuk memperkuat madrasah NU, merawat jariyah para pendahulu, dan mendorong pendidikan Ma’arif NU Banyuwangi semakin naik kelas.
