Banyuwangi, 26 Juni 2026 — IPPNU Banyuwangi menggelar Training of Facilitator Commissariat di Aula Kantor Kecamatan Rogojampi, Jumat (26/6/2026), sebagai upaya memperkuat kapasitas kader fasilitator dalam menjawab tantangan pembinaan pelajar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kegiatan yang diikuti 30 kader fasilitator IPPNU se-Banyuwangi tersebut berlangsung selama tiga hari dan diawali dengan stadium generale.
Pembukaan kegiatan menghadirkan Ketua LP Ma'arif PCNU Banyuwangi yang diwakili oleh Koordinator Bidang Pengembangan SDM dan Penelitian Pengembangan, Rofi'udin, M.Pd., sebagai narasumber. Dalam forum tersebut, peserta diajak memahami tantangan kaderisasi masa kini sekaligus memperkuat peran fasilitator sebagai penggerak pembinaan pelajar yang mampu menghadirkan solusi sesuai perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Rofi'udin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya hadir pada ruang-ruang keagamaan, melainkan memiliki jangkauan yang luas dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar yang tidak hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga berbagai tantangan terhadap pembentukan karakter generasi muda.
Ia menyampaikan bahwa derasnya arus informasi digital menuntut generasi pelajar memiliki kemampuan untuk lebih selektif dalam menerima dan memilah informasi. Banyak konten yang berkembang saat ini dinilai mengabaikan nilai-nilai adab dan perilaku sehingga diperlukan ruang-ruang pembinaan yang mampu menguatkan karakter peserta didik.
"NU tidak hanya ada pada ruang keagamaan. NU hadir di semua lini kehidupan dengan jangkauan yang luas. Hari ini kita dihadapkan pada perkembangan teknologi digital yang membawa dampak negatif terhadap penurunan akhlak. Generasi saat ini harus selektif dalam memilih dan memilah informasi. Banyak informasi yang mengabaikan adab dan perilaku. IPPNU patut disyukuri mampu menjawab dinamika tersebut melalui kegiatan-kegiatan positif sebagai ikhtiar menyambungkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat pendidikan, khususnya para pelajar," ujar Rofi'udin.
Selain membahas tantangan era digital, forum tersebut juga memberikan gambaran mengenai besarnya ruang pengabdian yang akan dihadapi para fasilitator komisariat. Menurut Rofi'udin, menjadi fasilitator bukanlah tugas jangka pendek, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen, optimisme, serta energi yang kuat untuk terus menggerakkan kaderisasi.
Ia menjelaskan bahwa saat ini Banyuwangi baru memiliki 24 komisariat IPPNU, sementara terdapat lebih dari 400 lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan LP Ma'arif PCNU Banyuwangi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kader-kader fasilitator masih sangat besar sehingga semangat dan optimisme harus terus dipelihara bersama.
"Jalan menjadi fasilitator harus memiliki energi yang kuat karena jalan panjang masih terbentang. Di Banyuwangi sendiri saat ini baru terdapat 24 komisariat, sementara ada lebih dari 400 lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma'arif PCNU Banyuwangi. Optimisme harus terus dijaga bersama," katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa fasilitator masa kini dituntut memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Program-program kaderisasi, menurutnya, tidak cukup hanya bersifat rutin, tetapi harus dirancang sesuai karakter remaja masa kini agar mampu menjadi jawaban atas persoalan yang mereka hadapi.
"Untuk menjalankan tugas sebagai fasilitator diperlukan kecerdasan yang tinggi agar mampu beradaptasi dengan kondisi masyarakat saat ini. Program-program yang disusun harus sesuai dengan karakter dan perkembangan remaja sebagai objek dakwah IPPNU. Program tersebut harus mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan remaja," jelasnya.
Training of Facilitator Commissariat ini menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kader IPPNU Banyuwangi agar memiliki kompetensi sebagai fasilitator yang tidak hanya memahami materi kaderisasi, tetapi juga mampu membaca dinamika sosial serta menghadirkan pendekatan pembinaan yang relevan dengan kebutuhan pelajar pada era digital.
Melalui pelatihan selama tiga hari tersebut, IPPNU Banyuwangi berupaya menyiapkan kader-kader fasilitator yang memiliki semangat pengabdian, kemampuan adaptasi, serta komitmen untuk terus menguatkan gerakan kaderisasi di lingkungan komisariat sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi pelajar yang berkarakter, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
